Selasa, 28 Januari 2014

Interaksi Mahasantri yang Berasal dari Pesantren dan Non-pesantren di Mabna Ummu Salamah

Diposting oleh Unknown di 18.42
Interaksi Mahasantri yang Berasal dari Pesantren dan Non-pesantren
A. Setting Lingkungan Sosial
Observasi tentang interaksi antara santri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren ini dilakukan di kawasan UIN Maliki Malang. UIN Maliki Malang merupakan sebuah universitas yang mewajibkan mahasiswa barunya untuk tinggal di asrama atau ma’had yang terletak di dalam kampus. UIN Maliki Malang mempunyai asrama atau yang lebih dikenal dengan Ma’had Sunan Ampel Al-Aly. Di dalam Ma’had Sunan Ampel Al-Aly, terdapat lima mabna putra dan empat mabna putri.

Lingkungan sosial di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan. Banyak kegiatan keagamaan yang sering dilakukan di mabna. Dalam kegiatan observasi ini, penulis memusatkan pada salah satu mabna putri dimana tempat penulis tinggal yaitu mabna Ummu Salamah. Mabna Ummu Salamah merupakan salah satu mabna putri yang ada di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly. Lingkungan sosial mabna Ummu Salamah tidak begitu jauh dari lingkungan sosial mabna-mabna yang lain. Di mabna inilah mahasiswa baru semester satu dan dua diajarkan tentang nilai-nilai sosial, khususnya nilai keagamaan. Pengajaran nilai-nilai sosial ini diwujudkan dalam berbagai macam kegiatan di mabna. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi shobaghul lughoh (pagi bahasa), taklim afkar, taklim Al-quran, tahsih Al-quran, tahsin Al-quran, solat berjamaah, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang bernafaskan Islam.
Selain kegiatan-kegiatan mabna tersebut, lingkungan sosial mabna Ummu Salamah sangat beranega ragam. Keaneka ragaman ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya perbedaan latar belakang mahasantrinya. Perbedaan latar belakang mahasantri ini meliputi perbedaan latar belakang pendidikan, perbedaan ekonomi, perbedaan asal daerah, serta perbedaan kebudayaan.

B.       Latar Belakang Kehidupan Sosial Subyek (Mahasantri yang Berasal dari Pesantren dan Non-Pesantren)
Mahasiswa baru yang tinggal di mabna atau yang sering disebut dengan mahasantri mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut diantaranya karena faktor perbedaan latar belakang pendidikan, ekonomi, asal daerah, hingga perbedaan kebudayaan. Dalam melakukan observasi ini, penulis memusatkan pengamatan pada perbedaan latar belakang pendidikan mahasantri. Secara umum, perbedaan latar belakang pendidikan mahasantri Ummu Salamah adalah dari pesantren dan non-pesantren. Perbedaan latar belakang inilah yang menyebabkan penulis tertarik untuk mengobservasi lebih lanjut.
Mahasantri yang berasal dari pesantren merupakan mahasantri yang sebelum masuk ke mabna, ia pernah mengenyam pendidikan di pesantren baik pesantren modern ataupun pesantren salafiyyah. Latar belakang mahasantri ini untuk masuk pesantren itupun dulunya bermacam-macam. Ada mahasantri yang dulu masuk pesantren karena keinginan orang tua dan ada juga mahasantri yang masuk pesantren karena keinginannya sendiri untuk menuntut ilmu di sana. “Bagi saya kehidupan pesantren itu menyenangkan, di sana kita bisa punya banyak teman yang senasib dan seperjuangan” ujar Maula, salah satru mahasantri yang berasal dari pesantren. Sedangkan hal yang berbeda diungkapkan oleh salah satu mahasantri yang berasal dari pesantren, “Saya masuk pesantren karena keinginan orang tua. Orang tua saya memasukan saya ke pesantren karena keluarga saya semua lulusan pesantren sehingga orang tua saya ingin saya belajar di pesantren juga”.
Selain mahasantri yang berasal dari pesantren, ada juga mahasantri yang berasal dari non-pesantren. Latar belakang mahasantri yang berasal dari non-pesantren juga bermacam-macam. Ada mahasantri yang dulunya tinggal di rumah bersama keluarga dan ada juga yang tinggal di lingkungan kost. “Meskipun SMA saya jauh dari rumah, tapi saya tidak pernah mondok. Dulu saya tinggal di kost yang dekat dengan sekolah saya” ujar Septa, salah satu mahasantri yang berasal dari non-pesantren. Hampir sama dengan mahasantri yang berasal dari pesantren, mahasantri yang pernah berdomisili di kost secara tidak langsung mereka juga dibekali keterampilan bersosialisasi dengan teman sebaya, terutama di lingkungan teman satu kamar. Selain itu, ada juga mahasantri yang berasal dari non-pesantren yang tidak pernah mengenyam lingkungan pesantren maupun kost, mereka ini tinggal di lingkungan keluarga atau rumah. “Saya tidak pernah mondok sebelum masuk mabna, saya tinggal di rumah bersama ayah, ibu, dan kedua adik saya”, ujar Zahra, salah satu santri yang berasal dari lingkungan non-pesantren.

C.      Gambaran Realitas Sosial
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan, dapat diketahui bahwa sebagian besar mahasantri yang berasal dari pesantren cenderung lebih percaya diri dan aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di mabna. Mereka merasa sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan yang bernafaskan Islam seperti itu sehingga mereka tidak merasa terlalu kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mabna. Selain itu, dalam hal berinteraksi dengan teman, sebagian besar dari mereka juga percaya diri dan mudah bergaul. Hal ini dikarenakan ketika mereka tinggal di pesantren mereka sudah dibiasakan dengan lingkungan sosial yang beraneka ragam.
Di sisi lain, sebagian besar mahasantri yang berasal dari non-pesantren kurang percaya diri dalam mengikuti kegiatan-kegiatan mabna. Ada beberapa yang merasa minder karena belum terbiasa dan merasa belum menguasai materi-materi yang disampaikan di mabna. Ada juga yang merasa malas mengikuti kegiatan mabna yang sangat padat. Selain itu, dalam hal berinteraksi dengan teman, ada mahasantri dari non-pesantren yang mudah melakukan interaksi dengan teman yang lain baik yang dari pesanten maupun dengan sesama non-pesantren. Meskipun ada juga mahasantri yang berasal dari non-pesantren yang masih kesulitan dalam hal berinteraksi dengan temannya karena berbagai macam alasan. Alasan-alasan tersebut diantaranya mereka merasa canggung untuk berinteraksi karena mereka tidak terbiasa hidup bersama dengan orang banyak, selain itu ada juga yang merasa tidak sepemahaman dengan teman-teman yang berasal dari pesantren sehingga ia enggan untuk berinteraksi dengan teman yang lain.

D.      Bentuk-bentuk Permasaahan Sosial   
Didalam sebuah perkumpulan apapun, pasti terdapat masalah-masalah baik masalah kecil maupun masalah yang besar. Ini juga terjadi di mabna Ummu Salamah. Masalah yang dapat muncul didalamnya, adalah masalah kesenjangan sosial antarmahasantri, terutama mahasantri yang berasal dari pesantren dan mahasantri yang berasal dari non-pesantren. Mahasantri yang berasal dari pesantren cenderung lebih aktif dan mendominasi kegiatan-kegiatan di mabna. Sedangkan sebagian besar mahasantri yang berasal dari non-pesantren lebih pasif dalam kegiatan-kegiatan mabna.
Selain itu, dalam hal berinteraksi dengan sesama mahasantri juga terdapat permasalahan sosial. Sebagian besar mahasantri yang berasal dari pesantren lebih mudah bergaul dari pada mahasantri yang berasal dari non-pesantren. Dari kesenjangan sosial dan proses interaksi antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren itupun juga dapat menimbulkan permasalahan sosial. Salah satu masalah sosial yang terjadi adalah ketika berinteraksi terkadang ada ketidaksesuaian pemahaman antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren sehingga dapat menyebabkan konflik antarteman.

E.       Penyebab Munculnya Masalah Sosial
Permasalahan ini timbul karena adanya kesenjangan diantara mereka. Mahasantri yang berasal dari pesantren cenderung lebih aktif dalam mengikuti kegiatan mabna karena mereka sudah terbiasa dengan lingkungan sosial yang kental dengan nilai-nilai keagamaan. Seperti yang diungkapkan Maula, salah satu alumni Pondok Pesantren Al-Rifa’i, “Ketika di pondok dulu saya sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan pondok, jadi sekarang saya tidak begitu kesulitan untuk beradabtasi dengan kegiatan di mabna”. Selain itu, dalam hal bergaul dengan teman sebaya, mahasantri yang berasal dari pesantren juga sudah terbiasa dengan kehidupan bersama. Di pesantren, baik secara langsung maupun tidak langsung mereka sudah dilatih untuk terampil berkomunikasi dengan teman karena lingkungan sosial mereka sangat mendukung untuk terjadi interaksi antarteman.
            Sedangkan mahasantri yang berasal dari non-pesantren yang kurang terbiasa dengan lingkungan sosial yang ada di mabna sebagian besar mengaku sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan maupun berinteraksi dengan teman. Awalnya mereka merasa canggung untuk berinteraksi dengan teman yang lain, terutama ketika berinteraksi dengan teman yang dari pesantren. Sebagian besar dari mereka merasa minder untuk berinteraksi dengan teman yang berasal dari pesantren karena mereka beranggapan bahwa teman dari pesantren itu pasti pintar-pintar. Meskipun ada beberasa mahasantri yang berasal dari non-pesantren yang merasa biasa saja dan tidak canggung dalam berinteraksi dengan teman yang lain.
Interaksi antrara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren ini sangat menarik. Di satu sisi ada mahasantri yang berasal dari pesantren yang sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan keagamaan atau taklim-taklim yang bernafaskan Islam. Selain itu mereka juga terbiasa hidup bersama orang banyak. Namun di sisi lain, juga terdapat mahasantri yang berasal dari non-pesantren di mana mereka tidak terbiasa mengikuti kegiatan-kegiatan khas pesantren. Karena perbedaan latar belakang pendidikan mereka, maka akan memunculkan permasalahan sosial.


F.       Dampak Riil Masalah Sosial dalam Kehidupan Sosial Masyarakat
Dari beberapa konflik atau masalah-masalah diatas, maka dapat diperoleh dampak bagi mabna Ummu Salamah. Dampak permasalahan sosial yang terjadi di mabna Ummu Salamah ini secara umum dibagi menjadi dua, yaitu dampak negatif dan dampak positif. Dampak negatif yang timbul pertama adalah adanya sedikit kerenggangan hubungan antara beberapa mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren. Yang kedua, sebagian besar mahasantri yang berasal dari pesantren mendominasi kegiatan-kegiatan di mabna sedangkan mahasantri yang berasal dari non-pesantren secara tidak langsung merasa minder dan semakin pasif dengan kegiatan mabna. Sedangkan dampak posotif yang muncul dari masalah tersebut diantaranya beberapa mahasantri yang berasal dari non-pesantren merasa terbantu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan mabna karena proses sosialisasi dari teman sebaya, yaitu teman yang berasal dari pesantren. “Awal tinggal di sini saya merasa sangat tidak nyaman dengan kegiatan yang bagi saya masih asing, tetapi saya punya teman yang bisa saya ajak sharing tentang pelajaran dan kegiatan di mabna jadi saya merasa terbantu dalam mempelajari pelajaran yang diajarkan di mabna”. Ujar salah satu mahasantri yang berasal dari non-pesantren.


ANALISA, PEMBAHASAN DAN SOLUSI
Pada teori yang penulis jelaskan sebelumnya, menurut Gillin dan Gillin (1954), interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia. Begitu juga dengan mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren di Mabna Ummu Salamah. Interaksi ini dilakukan oleh mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren. Interaksi ini sangat menarik karena perbedaan latar belakang pendidikan dan lingkungan tempat tinggal mereka.

Jika dalam teori kita disuguhi dengan teori tentang sosiologi atau ilmu tentang kemasyarakatan, maka dalam Mabna Ummu Salamah mencoba memberikan bentuk-bentuk interaksi antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren. Salah satu faktor yang melatarbelakangi interaksi ini terjadi karena mereka ditempatkan pada satu kamar, sehingga mau tidak mau mereka akan berinteraksi. Selain itu, interaksi antarmahasantri ini juga bisa terjadi ketika ada kegiatan-kegiatan mabna terutama kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya mahasantri di tempatkan pada kelas-kelas tertentu.
Bentuk-bentuk interaksi itupun bermacam-macam. Ada yang melakukan kerjasama, contohnya melakukan kerja sama dalam mengikuti lomba-lomba serta kegiatan yang diadakan mabna. Tidak jarang pula interaksi yang berbentuk persaingan, persaingan di sini biasanya terjadi di dalam kegiatan mabna yang berbentuk belajar mengajar di dalam kelas-kelas di mabna. Dalam bentuk interaksi ini, terjadi persaingan antarmahasantri dalam menguasai materi yang disampaikan.
Hasil interaksi antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren ini bermacam-macam. Sebagian besar mahasantri merasakan dampak yang positif dari interaksi tersebut. Mahasantri yang berasal dari non-pesantren merasa terbantu dengan mereka berinteraksi dengan mahasantri yang berasal dari pesantren. Mereka menilai, dengan berinteraksi dengan teman sebaya yang berasal dari pesantren akan membantu mereka dalam proses pembelajaran dan mengikuti kegiatan-kegiatan di mabna. Hal ini dikarenakan seperti yang kita ketahui bahwa lingkungan mabna Ummu Salamah sangat kental dengan nilai-nilai keislaman sehingga bagi sebagian mahasantri yang berasal dari non-pesantren merasa terbantu dengan teman yang berasal dari pesantren yang lebih memahami suasana mabna.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa interaksi antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren terkadang juga memunculkan konflik. Konflik kesenjangan sosial antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren salah satunya. Mahasantri yang berasal dari pesantren sebagian lebih mendominasi kegiatan-kegiatan di mabna daripada mahasantri yang berasal dari non-pesantren. Selain itu, ada juga konflik antarindividu, yaitu konflik antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren. Konflik ini muncul biasanya dilatarbelakangi oleh ketidak sepemahaman mengenai suatu hal.
Sebuah masalah pasti akan ada dampaknya. Pertama, beberapa mahasantri yang berasal dari non-pesantren cenderung malas dan minder dalam mengikuti kegiatan-kegiatan mabna. Yang kedua, sedikit renggangnya hubungan antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren ketika tidak ada kesepahaman, itupun hanya bertahan beberapa jam saja atau paling lama satu hari.
Dengan adanya masalah-masalah tersebut, penulis berharap antara mahasantri yang berasal dari pesantren dan non-pesantren saling membuka diri agar dapat menerima setiap kelebihan daan kekurangan masing-masing individu. Selain itu, pihak mabna juga mengklasifikasikan kelas-kelas yang ada dalam kegiatan belajar mengajar mahasantri sesuai dengan kemampuan mereka sehingga tidak ada kesenjangan yang begitu berarti. Selain itu, hendaknya diberikan pelajaran tambahan atau bimbingan tambahan bagi mahasantri yang berasal dari non-pesantren sehingga mereka bisa menyetarakan kemampuan mereka terutama dalam bidang akademik dan keaktifan di mabna


Daftar Pustaka:
Giddens, Anthony. 1993. New Rules of Sociological Method: A Positive Critique
            of Interpretative Sociologies. California: Standford University Press.
Gillin, John.1954. Cultural Sociology. New York: The Macmillan Company.
Henslin, James. 2006. Essentials of Sociology. New Jersey: Pearson Education.
Jones, Pip. 2003. Introducing Social Theory. Cambridge: Polity Press.
Ritzer, George. 2003. Modern Sociological Theory, 6th Edition. New York:
        McGraw-Hill.
        Ritzer, George. 1980. Sociology: A Multiple Paradigm Science. Needham Heights, MA:  Allyn &    Bacon, Inc.
 

 

1 komentar:

Unknown on 10 Desember 2015 pukul 07.12 mengatakan...

Ini tugasnya pak yahya ya?

Posting Komentar

 

My Blog Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting